Blog-nya Mba Ani yang berisi: "Rangkuman Materi, Soal Latihan, dan Pendalaman Materi SD (Kurikulum 2013)"

Kamis, 07 Juni 2012

MANAJEMEN dan ANALISIS DATA-2


Tugas-1: PRE-TEST

 MANAJEMEN dan ANALISIS DATA-2


Nama: Anifatun Mu’asyaroh          NPM   : 1006668014

1.      Dari data “Uji bivariat, confounding, & interaksi.SAV” lakukan uji statistik untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan BBLR.
2.     Sajikan hasil analisis anda dan Interpretasikan



1.      Analisis Bivariat
a.      Hubungan antara umur dengan BBLRà Uji t independen
Tabel 1
Distribusi Rata-rata Umur Responden dengan Berat Badan Bayi
BBLR
Mean
SD
SE
P value
n
Ya
23,42
9,982
1,289

0,523
60
Tidak
22,55
3,159
0,408
60

Rata-rata umur responden yang kondisi bayinya tidak BBLR adalah 22,55 tahun dengan standar deviasi sebesar 3,159 tahun. Sedangkan rata-rata umur responden yang kondisi bayinya BBLR adalah 23,42 dengan standar deviasi sebesar 9,982 tahun. Pada hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,523 di mana melebihi alpha=0,05. Dengan demikian pada alpha 5% terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan rata-rata umur responden antara ibu yang bayinya BBLR dan tidak BBLR.

b.      Hubungan antara Hb dengan BBLRà Uji t independen
Tabel 2
Distribusi Rata-rata Kadar Hb Responden dengan Berat Badan Bayi

BBLR
Mean
SD
SE
P value
n
Ya
11,833
1,0938
0,1412

0,045
60
Tidak
12,210
0,9339
0,1206
60
Rata-rata kadar Hb responden yang kondisi bayinya tidak BBLR adalah 12,210 gr% dengan standar deviasi sebesar 0,9339 gr%. Sedangkan rata-rata kadar Hb responden yang kondisi bayinya BBLR adalah 11,833 gr% dengan standar deviasi sebesar 1,0938 gr%. Pada hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,045 di mana kurang dari alpha=0,05. Dengan demikian pada alpha 5% terlihat bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata kadar Hb responden antara ibu yang kondisi bayinya BBLR dan tidak BBLR.

c.       Hubungan antara status gizi dengan BBLRà Uji Kai Kuadrat
Tabel 3
Distribusi Responden Berdasarkan Status Gizi dengan Berat Badan Bayi

Status Gizi
BBLR
Total
OR
(95% CI)
P value
Tidak
Ya
n
%
n
%
n
%
Baik
40
66,7
20
33,3
60
100
4.00
1,872-8,545
0,001
Kurang
20
33,3
40
66,7
60
100
Jumlah
60
100
60
100
120
100

Dari hasil analisis hubungan antara status gizi responden dengan berat badan bayi didapatkan bahwa ada sebanyak 20 (33,3%) orang responden dengan gizi baik yang memiliki bayi BBLR. Sedangkan pada responden dengan status gizi kurang ada sebanyak 40 (66.7%) orang yang memiliki bayi BBLR. Pada hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,001 (<0,05) maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian BBLR antara responden dengan status gizi baik dan kurang (ada hubungan yang signifikan antara status gizi responden dengan kondisi berat bayi).
Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR 4, artinya responden dengan status gizi kurang mempunyai peluang memiliki bayi dengan kondisi BBLR sebesar 4,0 kali daripada responden dengan gizi baik.


d.      Hubungan antara anemia dengan BBLRà Uji Kai Kuadrat
Tabel 4
Distribusi Responden Berdasarkan Status Anemia dengan Berat Badan Bayi

Status Anemia
BBLR
Total
OR
(95% CI)
P value
Tidak
Ya
n
%
n
%
n
%
Ya
36
60
24
40
60
100
0,444
0,214-0,923
0,045
Tidak
24
40
36
60
60
100
Jumlah
60
100
60
100
120
100

Dari hasil analisis hubungan antara status anemia responden dengan berat badan bayi didapatkan bahwa ada sebanyak 36 (60%) orang responden tidak menderita anemia yang memiliki bayi BBLR. Sedangkan pada kelompok responden yang menderita anemia ada sebanyak 24 (40%) orang yang memiliki bayi BBLR. Pada hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,0451 (<0,05) maka dapat disimpulkan ada perbedaan proporsi kejadian BBLR antara responden yang menderita anemia dan tidak menderita anemia (ada hubungan yang signifikan antara status anemia responden dengan kondisi berat bayi).
Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR 0,444, artinya responden dengan status anemia mempunyai peluang memiliki bayi dengan kondisi BBLR sebesar 0,444 kali daripada responden yang berstatus tidak anemia.
è Terjadi anomali. Berdasarkan beberapa sumber yang pernah saya baca, pada umumnya, ibu hamil yang menderita anemia justru berpeluang lebih besar memiliki bayi dengan kondisi BBLR dibandingkan ibu hamil yang tidak menderita anemia.

e.       Hubungan antara sosial ekonomi dengan BBLRà Uji Kai Kuadrat
Tabel 5
Distribusi Responden Berdasarkan Status Sosial Ekonomi Gizi dengan Berat Badan Bayi
Status Anemia
BBLR
Total
OR
(95% CI)
P value
Tidak
Ya
n
%
n
%
n
%
Tinggi
41
70,7
17
29,3
58
100
5,458
2,498-11,928
0,0005
Rendah
19
30,6
43
69,4
62
100
Jumlah
60
100
60
100
120
100


Dari hasil analisis hubungan antara status sosial ekonomi responden dengan berat badan bayi didapatkan bahwa ada sebanyak 17 (29,3%) orang responden dengan status ekonomi tinggi yang memiliki bayi BBLR. Sedangkan pada responden dengan status gizi kurang ada sebanyak 43 (70.7%) orang yang memiliki bayi BBLR. Pada hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,0005 (<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan proporsi kejadian BBLR antara responden dengan status sosial ekonomi tinggi dan rendah (ada hubungan yang signifikan antara status sosial ekonomi responden dengan kondisi berat bayi).
Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR 5,458, artinya responden dengan status sosial ekonomi rendah mempunyai peluang memiliki bayi dengan kondisi BBLR sebesar 5,458  kali daripada responden dengan status sosial ekonomi tinggi.




Sumber:
http://digilib.uns.ac.id/pengguna.php?mn=detail&d_id=13940 (diakses Minggu, 26 Feb 2012, pukul 23.33 WIB)
Share:

Implementasi Teknologi Komputer Dalam Bidang Kesehatan di Daerah Terpencil


Implementasi Teknologi Komputer Dalam Bidang Kesehatan
di Daerah Terpencil





Tugas Mata Kuliah Teknologi Komputer





Oleh :
Anifatun Mu’asyaroh
Fauziah Nurmala Sari
Helmi Wahyuningsih
Iksanatun Fadila Oktabriani





FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
Mei 2012


Latar Belakang
            Kesehatan di daerah terpencil memang menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat (basic need). Namun, jika dilihat dari kondisi saat ini, pelayanan kesehatan di daerah terpencil belum memadai, baik dari segi sumber daya manusia maupun infrastruktur di institusi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembangunan kesehatan secara intensif oleh pemerintah untuk mengatasi minimalnya sumber daya dan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
Tujuan pembangunan kesehatan di daerah terpencil diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, jika diamati lebih pembangunan kesehatan antara daerah maju dan daerah terpencil mengalami kesenjangan cukup signifikan. Hal itu tentu akan berdampak pada pembangunan manusia Indonesia. Simak saja peringkat Human Development Index (HDI) bangsa Indonesia menurut UNDP pada tahun 2006, di mana Indonesia menduduki peringkat ke-108 dari 177 negara-negara di dunia. Mengingat keterbatasan infrastruktur yang ada di daerah terpencil, pemerintah perlu mengupayakan peningkatan fasilitas, salah satunya dengan meningkatkan pengadaan teknologi. Teknologi digunakan untuk mempermudah pekerjaan. Sebagai contoh, penggunaan sistem informasi untuk penggunaan database dan juga bisa digunakan untuk memantau kesehatan pasien (memonitor detak jantung, memonitor aliran darah, memeriksa organ dalam pasien dengan sinar x, dll).
Salah satu teknologi yang sangat penting untuk diupayakan adalah teknologi  komputer. Teknologi komputer ini dapat berguna untuk memudahkan petugas kesehatan dalam menunjang kinerjanya serta dalam melayani masyarakat setempat. Semakin pesatnya perkembangan teknologi computer mengakibatkan keberadaan sistem informasi elektronik berbasis komputer sangat strategis dalam meningkatkan pembangunan, salah satunya adalah pembangunan kesehatan. Informasi-informasi tersebut dapat digunakan bagi kepentingan pelaporan dalam surveilans untuk mengetahui masalah kesehatan yang sedang terjadi sehingga dapat dilakukan tindakan langsung dalam penyelesaian masalah tersebut. Selain itu, informasi yang ada disebarluaskan kepada masyarakat sehingga masyarakat mengetahui kondisi kesehatan di wilayahnya.

Pentingnya Teknologi Komputer dalam Menunjang Aktivitas di Bidang Kesehatan Khususnya di Daerah Terpencil
            Pada daerah yang belum menggunakan pemanfaatan teknologi komputer, sistem pelayanan kesehatan masih dilakukan secara manual menggunakan tangan. Hal ini tentunya dapat menghambat efektivitas dam efisiensi kinerja petugas dalam bekerja dan melayani masyarakat. Padahal pemanfaatan teknologi komputer dapat memudahkan petugas, misalnya dalam hal:
1.      Rekam medis berbasis komputer,
secara prinsip, rekam medis berbasis komputer mencakup penggunaan database untuk mencatat semua data medis pasien atau data klinis pasien yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter maupun hasil pemeriksaan laboratorium. Jika diterapkan, sistem ini dapat membantu petugas dalam melihat riwayat penyakit dan perkembangan kondisi pasien secara mudah. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis, serta memberikan instruksi klinis.
2.      Teknologi nirkabel,
pemanfaatan jaringan komputer dalam dunia medis sebenarnya telah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Melalui jaringan nirkabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggu mobilitasnya.
3.      Komputerisasi pada proses administrasi, seperti sistem penjadwalan petugas medis (dokter, perawat),           
4.      Komputerisasi pada proses regristasi pasien,
5.      Penanganan dan pengolahan data sosial pasien,
6.      Penanganan dan pengolahan data kunjungan pa,sien
7.      Penanganan pembayaran atas tindakan dan pelayanan
8.      Keuangan dan accounting.
Penggunaan teknologi komputer di daerah terpencil masih sangat minimal. Salah satu contoh adalah di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki peringkat ke-31 dari 33 provinsi dalam Indeks Pembangunan Manusia. Kesehatan merupakan salah satu indikator dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia. Dalam pembangunan kesehatan itu sendiri, dibutuhkan penggunaan sistem informasi yang tepat. Akan tetapi, kendala yang dihadapi oleh Provinsi NTT adalah terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana sistem informasi dan minimnya penggunaan fasilitas komputer. Terbatasnya ketersediaan sistem informasi dapat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan kegiatan sehingga pelaksanaan yang dilakukan oleh Provinsi NTT kurang maksimal.
Selain di Provinsi NTT, Provinsi NTB yang berada pada peringkat ke-32 dari 33 provinsi juga memiliki masalah terkait penggunaan teknologi komputer, yaitu adanya fragmentasi dalam sistem informasi kesehatan. Maksud dari fragmentasi tersebut adalah banyaknya penggunaan sistem informasi kesehatan yang berbeda-beda di semua tingkat administrasi (kabupaten, kota, provinsi). Hal ini mengakibatkan terjadinya duplikasi data, kurangnya kelengkapan data, dan data yang tidak valid. Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa puskesmas harus mengirim lebih dari 300 laporan dan terdapat 8 macam sistem yang digunakan sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Beban-beban yang terlalu tinggi mengakibatkan ketidakefektifan dan ketidakefisiensian sistem informasi kesehatan yang digunakan.
Selain itu, masalah yang dihadapi dalam sistem informasi kesehatan ialah format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum memiliki standar secara nasional. Hal ini diwujudkan dari masih adanya daerah yang mencatat dan menyerahkan laporan kesehatan yang diisi dengan tulisan tangan. Lebih buruknya, mereka terkadang menyusun sendiri poin-poin pelaporan sehingga tidak sesuai dengan standar yang sudah dibuat oleh pemerintah. Sudah dapat dipastikan, metode pencatatan dan data basing seperti ini sangat tidak efektif dan memberi informasi yang baik.
Masalah tersebut mendorong pemerintah untuk membuat perencanaan sistem informasi kesehatan daerah yang baru pada tahun 2008, yakni Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) “Satu Pintu”. Sistem ini merupakan sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan yang berpusat pada sebuah bank data sebagai pintu masuk dan keluarnya data, yang berisikan data individu dan atau agregat yang berasal dari setiap fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta serta sektor terkait.
Untuk menerapkan SIKDA “Satu Pintu”, dibutuhkan sarana pendukung, antara lain bangunan, hardware, software, SDM untuk pengumpulan, pengolahan, analisa, dan visualisasi data. Terlebih, 96% puskesmas harus memiliki minimal satu unit computer untuk dapat melaksanakan program ini.
Selain hal di atas, dalam penggunaan teknologi komputer dibutuhkan tenaga ahli profesional untuk menjalankan sistem pelayanan kesehatan berbasis komputer. Dengan adanya tenaga ahli, maka penggunaan teknologi komputer dalam sistem pelayanan kesehatan menjadi optimal dan saat terjadi masalah dalam penggunaan komputer, mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Keuntungan Penggunaan Teknologi Komputer dalam Bidang Kesehatan
            Dari salah satu pemaparan di atas, dapat dikerucutkan sebuah intisari bahwa pengolahan data dengan metode manual sangat kurang efektif dan efisien, terutama dalam hal penyimpanan data. Sedangkan apabila data diolah dan disimpan dalam komputer, kemungkinan data tersimpan dan terolah dengan baik akan lebih besar. Selain itu, komputer melalui software-software yang terdapat di dalamnya dapat menghasilkan informasi yang berkualitas dan akurat kaena dilakukan uji analisis sehingga membantu dalam hal pengambilan keputusan. Adapun keuntungan yang didapat dari penggunaan teknologi komputer adalah sebagai berikut.
  1. Dapat mengurangi pekerjaan yang berulang-ulang atau dapat mengedit dengan mudah, tampilan yang mudah dipahami oleh pemakai, meningkatkan kinerja dalam rangka melakukan perjalanan menyelesaikan tugas dengan baik.
  2. Dapat menyajikan informasi secara akurat karena informasi yang dihasilan lebih berkualitas daripada jika diolah secara manual.
  3. Informasi dapat diperoleh tepat waktu karena data yang sudah di-input umumnya dapat diolah dalam waktu yang relative singkat dan cepat
  4. Relevan, kaena informasi yang setiap saat dibutuhkan dapat diperoleh sehingga informasi yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan.
           
Kendala yang Dihadapi dalam Penerapan Teknologi Komputer dalam Bidang Kesehatan di Berbagai Daerah di Indonesia
Berdasakan paparan di atas, penggunaan komputer di bidang kesehatan di negara-negara berkembang, seperti di berbagai daerah di Indonesia masih belum merata. Tidak hanya dari segi fasilitas komputer dan jaringannya, tetapi dari segi sumber daya manusia. Di Indonesia masih sedikit tenaga kesehatan yang sekaligus dapat mengoperasikan komputer. Hal ini salah satu penyebab masih minimalnya penggunaan komputer sebagai pendukung kesejahteraan kesehatan masyarakat. Padahal, maksud pemerintah mengadakan sistem informasi kesehatan berbasis komputer adalah untuk mempermudah pekerjaan dalam keterbatasan sumber daya manusia.
Penggunaan komputer tentunya tidak lepas dari listrik. Seperti yang kita tahu, komputer membutuhkan listrik untuk dapat beroperasi. Meskipun pemerintah sudah merencanakan sebuah sistem informasi kesehatan di daerah-daerah, tetap saja hal itu kurang dapat memberikan hasil yang baik, karena masih banyak daerah yang mendapat pemadaman listrik bergilir atau bahkan sama sekali belum teraliri listrik. Oleh karena itu dibutuhkan peran serta yang tinggi, konsisten dan intensif dari pemerintah dalam hal penyediaan aliran listrik yang baik dan merata hingga daerah terkecil di nusantara.
Masalah utama dari masih minimalnya penggunaan komputer di daerah adalah masih sedikitnya penyediaan komputer bahkan di tingkat rumah sakit. Hal inilah yang membuat daerah masih kesulitan dalam hal pengolahan data kesehatan.





KESIMPULAN
Tiga peringkat indeks pembangunan manusia berada di Provinsi Papua, NTB, dan NTT. Indikator dalam pengukuran indeks pembangunan manusia adalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dalam meningkatkan pembangunan kesehatan, dibutuhkan infrastruktur yang mencakup sarana dan prasarana, salah satunya adalah teknologi komputer. Namun, penggunaan teknologi komputer di tiga provinsi di atas masih minimal. Proses pelaksanaan pelayanan kesehatannya pun masih kurang maksimal. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut terutama daam hal pengumpulan dan penyimpanan data-data pasien yang seharusnya akan lebih mudah dan terorganisasi dengan baik apabila menggunakan sistem komputerisasi yang sudah terjamin baik kinerjanya.

SARAN
Saran yang dapat disampaikan kepada daerah-daerah yang masih belum menggunakan  teknologi komputer sebagai alat utama penyampaian dan penampungan segala data dan informasi antara lain sebagai berikut.
1.    Untuk menghindari kesalahan dan ketidakefektifan dalam pengumpulan dan penggunaan data yang biasanya terjadi apabila menggunakan metode manual, sebaiknya pengolahan data dan informasi kesehatan beralih menggunakan sistem berbasis komputer. Hal ini cukup mungkin dilakukan karena syarat utama penggunaan kompter adalah adanya listrik, operator dan komputer itu sendiri.
2.    Pemanfaatan media komputer sebagai penghubung arus informasi dan pendukung pelayanan kesehatan seharusnya diterapkan sebagai pengganti cara kerja manual.
3.    Meningkatanya peran pemerintah dalam hal pengadaan tenaga ahli komputer, penyediaan alur listrik hingga ke pelosok terkecil dan komputer khusus kesehatan minimal berjumlah satu unit yang ditempatkan di puskesmas desa.
4.    Adanya pelatihan terhadap para tenaga kesehatan mengenai cara mengoperasikan komputer dan menjalankan berbagai software yang berkaitan dengan pengolahan data, kesehatan dan perhitungan sederhana. Dengan demikian, keberadaan komputer tidak malfungsi di daerah tersebut. Hal ini didasarkan pada adanya daerah yang sebenarnya masyarakat dan daerahnya berpotensi memanfaatkan sistem berbasis komputer, tetapi dari mereka sendiri masih kurang adanya kesadaran dan keinginan. Dengan adanya pelatihan terhadap tenaga kesehatan yang notabene dapat dikatakan sebagai salah satu contoh masyarakat, maka diharapkan perkembangan pemanfaatan komputer dapat meningkat.





Daftar Pustaka
http://www.anneahira.com/teknologi.htm (Rabu, 2 Mei 2012. 19.00 WIB)
Rahmi So­arini. "Cukilan Desentralisasi: Inovasi dalam Pembangunan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Tantangan Keberlanjutan Penerapannya". http://www.batukar.info/system/files/BinderRahmi.pdf  (diakses pada tanggal 3 Mei 2012, 17:20 WIB)
dr.Awi Muiadi Wijaya, MKM." Perkembangan Terkini dan Masa Depan SIK di Indonesia". http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=183:perkembangan-terkini-dan-masa-depan-sistem-informasi-kesehatan-sik-di-indonesia&catid=27:helath-programs&Itemid=28  (diakses pada tanggal 3 Mei 2012, 17:15 WIB).

Share:

SURVEI ANGKATAN KERJA






TUGAS MATA KULIAH MONITORING DAN EVALUASI

Menyusun Ringkasan Metadata Kegiatan Statistik
(Survei Angkatan Kerja di Indonesia)


oleh:
Anifatun Mu’asyaroh                      1006668014           
Diana Wijayaningrum                      1006668563
Iksanatun Fadila Oktabriani            1006669240
Laeli Nur Maeni                             1006669420




UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2012



SURVEI ANGKATAN KERJA

ü  TUJUAN:
Tujuan umum sakernas adalah tersedianya data tentang ketenagakerjaan yang menyeluruh dan berkesinambungan, khususnya untuk memperoleh informasi/data tentang jumlah orang yang bekerja (employment) dan yang mencari pekerjaan (unemployment) serta perkembangannya baik tingkat nasional maupun tingkat regional.
Pengumpulan data ketenagakerjaan melalui SAKERNAS mempunyai tiga tujuan utama. Ketiga tujuan tersebut adalah untuk mengetahui:
1.   Kesempatan kerja, dan kaitannya dengan pendidikan, jumlah jam kerja, jenis pekerjaan, lapangan pekerjaan dan status pekerjaan.
2.   Tingkat pengangguran, dan kaitannya dengan pendidikan, upaya dan lamanya mencari pekerjaan.
3.   Penduduk yang tercakup dalam kategori bukan angkatan kerja yaitu, mereka yang sekolah, mengurus rumah tangga dan melakukan kegiatan lainnya.

ü  DATA
1.      Variabel yang digunakan:
a.      Nama anggota rumah tangga
b.      Hubungan dengan kepala rumah tangga
c.       Jenis kelamin
d.      Umur
e.       Status Perkawinan
f.       Partisipasi Sekolah
g.      Pendidikan tertinggi yang ditamatkan
h.      Kegiatan terbanyak
i.        Jumlah hari dan jam kerja
j.        Jam kerja pada kegiatan utama
k.      Jenis pekerjaan utama
l.        Lapangan pekerjaan utama
m.    Status pekerjaan utama
n.      Upah/gaji pekerja/karyawan
o.      Pekerjaan tambahan
p.      Lapangan pekerjaan tambahan utama
q.      Mencari pekerjaan
r.        Alasan untuk tidak mencari pekerjaan
s.       Upaya dalam mencari pekerjaan
t.        Lamanya mencari pekerjaan
u.      Lapangan pekerjaan setahun yang lalu

2.    Periodisasi: Semesteran
3.    Tahun Data: 2005 – 2010

ü  METODOLOGI
1.    Cakupan Wilayah       : Seluruh Indonesia
2.    Cakupan Responden  : Rumah tangga biasa (bukan rumah tangga khusus seperti korps diplomatik, asrama, penjara, komplek militer, dan sebagainya)
3.    Unit Observasi             : Rumah tangga
4.    Pengumpulan Data     : Wawancara langsung
5.    Contoh Kuesioner       : SAK96.L, SAK96.DSRT, SAK96.AK

ü  KELUARAN
1.    Level Terendah Data dalam Publikasi: Kabupaten/Kota
2.    Publikasi                      :    - Pertama kali pada tahun 1976 merupakan kegiatan pengumpulan Data Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia (dilanjutakan pada tahun 1977, 1978, 1982, 1986, 1989-2010)
-    Pada tahun 1982 dan 1986 (triwulan sekali), 1989-2010 merupakan kegiatan pengumpulan data Keadaan Buruh/Pekerja di Indonesia)
-    Pada tahun 1997-1999, 2000-2002 mengenai Pengangguran Terbuka dan Setengah Pengangguran di Indonesia.     
-    Tahun 2002-2003 pada Statistik Ketenagakerjaan Usia Muda di Indonesia.

3.    Pemanfaatan Data      : Data Survei Angkatan Kerja dapat digunakan dalam Perencanaan Ketenagakerjaan Nasional (PTKN) karena data yang diperoleh dapat menggambarkan keadaan umum ketenagakerjaan di Indonesia  antarperiode pencacahan.

ü  CATATAN
            Kegiatan pengumpulan data ketenagakerjaan pertama kali dilaksanakan tahun 1976. Sampai dengan saat ini, Sakernas mengalami berbagai perubahan baik dalam periode pencacahan maupun cakupan sampel wilayah dan rumah tangga. Tahun 1986 sampai dengan 1993 Sakernas dilaksanakan secara triwulanan, tahun 1994 sampai dengan 2001 secara tahunan setiap bulan Agustus, sedangkan tahun 2002 sampai dengan 2004 selain secara tahunan juga dilaksanakan secara triwulanan. Mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 sakernas dilakukan secara semesteran.
            Dengan semakin mendesaknya tuntutan data ketenagakerjaan baik variasi, kontinuitas, kemutakhiran dan peningkatan akurasi data yang dihasilkan maka pengumpulan data Sakernas mulai tahun 2011 dilakukan kembali secara triwulanan yaitu; bulan Februari 2011 (triwulan I), Mei 2011 (triwulan II), Agustus 2011 (triwulan III), dan November 2011 (triwulan IV) yang penyajian datanyadirancang sampai tingkat provinsi. Pelaksanaan Sakernas Triwulan III (bulan Agustus) selain sampel triwulanan juga terdapat sampel tambahan, untuk kepentingan angka tahunan sebagai estimasi penyajian data sampai tingkat kabupaten/kota.


Sumber:
http://lib.ugm.ac.id/digitasi/upload/2566_pp110600010.pdf (diakses pada tanggal 6 Juni 2012, 8.08 WIB)


Share:

Postingan Populer