Blog-nya Mba Ani yang berisi: "Rangkuman Materi, Soal Latihan, dan Pendalaman Materi SD (Kurikulum 2013)"

Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

Puskesmas Depok Jaya


TUGAS
MATA KULIAH KESEHATAN IBU DAN ANAK
Laporan Hasil Wawancara dan Pengamatan terhadap Puskesmas Depok Jaya






oleh
Anifatun Mu’asyaroh
1006668014
Kelas KIA, Ibu Evi Martha
(Jumat pukul 08.00-09.40, Aula A)



Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Oktober 2011



Laporan Hasil Wawancara dan Pengamatan terhadap Puskesmas Depok Jaya

Hari/Tanggal Wawancara  : Jumat, 30 September 2011
Pukul                                 : 08.50 WIB
Tempat                               : Puskesmas Depok Jaya, Beji, Depok
Narasumber                       : Ibu Dr. Yani Nuryani selaku Kepala Puskesmas Depok Jaya
Riwayat Narasumber         : -  Puskesmas Kalimulya sebagai staff (1992-1994)
-     Puskesmas Pancoran Mas sebagai staff (1994-2005)
-     Puskesmas Sawangan sebagai staff (2005-2010)
-    Puskesmas Depok Jaya sebagai kepala puskesmas (2010-sekarang)
                                          
Laporan ini berisi resume hasil wawancara kepala dan mengamati kinerja Puskesmas Depok Jaya pada hari Jumat, 30 September 2011 yang cenderung berlangsung sama di hari-hari lain.

A.  Pengertian Puskesmas
Pengertian puskesmas berdasarkan keterangan yang sudah disampaikan oleh Dr. Yani adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemberian layanan kesehatan di suatu wilayah kerja.

B.  Cakupan Wilayah Kerja Puskesmas Depok Jaya
Setiap puskesmas mempunyai wilayah kerjanya masing-masing yang sudah terbagi-bagi banyak porsi wilayahnya dan biasanya mencakup beberapa RW. Misalnya, Puskesmas Depok Jaya ini mempunyai wilayah kerja yang berbeda dengan Puskesmas Mampang. Puskesmas Depok Jaya mempunyai cakupan wilayah kerja sebanyak 14 RW sedangkan Puskesmas Mampang sebanyak 15 RW. Meski demikian, kedua puskesmas tersebut berada di bawah naungan Puskesmas Pancoran Mas.

C.  Visi dan Misi Puskesmas Depok Jaya
Puskesmas Depok Jaya beserta jajarannya telah menyelanggarakan berbagai upaya kesehatan di wilayah tersebut. Dalam pelaksanaannya, Puskesmas ini mempunyai visi dan misi yang belum pernah diubah sejak awal berdiri, sebagai berikut:
-       Visi
     Masyarakat sehat sejahtera melalui peran puskesmas dalam memberikan pelayanan yang bermutu, terjangkau, efektif, dan responsif.
-       Misi
1. Memberikan pelayanan secara menyeluruh, merata, terpadu serta berorientasi kepada kepuasan masyarakat.
2. Mengupayakan kemandirian masyarakat dalam melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS).
3. Memberikan respon secara cepat dan tepat terhadap penyakit menular dan penyakit berbasis lingkungan.
4.   Memberdayakan seluruh potensi yang ada.

D.  Struktur Puskesmas Depok Jaya
Terkait dengan poin ke-4 pada misi tersebut, Puskesmas Depok Jaya, dalam keterbatasan jumlah tenaga medis yang terdapat di sana, selalu berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi para pasien. Hal ini dilakukan dengan cara memberdayakan seluruh potensi tenaga medis tersebut dan membaginya ke dalam unit-unit yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan jumlah tenaga medisnya. Hal di atas dapat dilihat dalam susunan atau struktur Puskesmas Depok Jaya di bawah ini.






Adanya sedikit keterbatasan tenaga atau sumber daya manusia di Puskesmas Depok Jaya menyebabkan ada beberapa unit yang ditangani oleh satu orang yang sama. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kekurangan jenis pelayanan yang diberikan atau didapatkan oleh pasien puskesmas. Jadi, meskipun harus ada tugas ganda, para tenaga meds dan kesehatan di sana rela untuk melakukannya demi terlaksananya pelayanan kesehatan yang memadai untuk warga.

E.  Bentuk Pelayanan di Puskesmas Depok Jaya
Bentuk pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Depok Jaya mencakup pelayanan di dalam gedung dan di luar gedung.
1. Pelayanan di dalam gedung berupa pelayanan yang biasa kita lihat atau kita alami saat berobat di puskesmas, yaitu berupa pemeriksaan, konsultasi, dll.
2.   Pelayanan di luar gedung itu sendiri dapat berupa penyuluhan terhadap warga, posyandu yang bahkan bisa melayani setiap hari, poswindu untuk para lansia, dll. Khusus untuk pelayanan di luar gedung ini, tempat atau lokasi pelayanan tidak stag di sekitar puskesmas atau oleh staff puskesmas saja. Namun, ada petugas kesehatan lain nonstaff puskesmas yang bertanggung jawab untuk setiap kegiatan.
Puskesmas dan jajarannya bertugas sebagai pengawas dan pengatur. Jadi, untuk pelayanan kesehatan di luar gedung, petugas dapat mengumpulkan pasien-pasien di suatu tempat lalu memberi penyuluhan kepada mereka atau mendatangi pasien tersebut ke rumah mereka satu per satu lalau memberikan pendekatan intrapersonal.
Adapun pelayanan yang dimaksud di atas terbagi menjadi dua kategori, yaitu kategori Kegiatan Wajib/Pokok dan kategori Kegiatan Tambahan/Pengembangan.
Kegiatan Pokok/Wajib, ada 6:
Kegiatan Tambahan/Pengembangan, ada 9:
1.  Upaya promosi kesehatan
2.  Upaya Kesehatan lingkungan
3.  Upaya KIA dan KB
4.  Upaya perbaikan gizi masyarakat
5.  Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6.  Upaya pengobatan
1. Upaya kesehatan sekolah
2.  Upaya kesehatan olahraga
3.  Upaya perawatan kesehatan masyarakat
4.  Upaya kesehatan kerja
5.  Upaya kesehatan gigi dan mulut
6.  Upaya kesehatan jiwa
7.  Upaya kesehatan mata
8.  Upaya kesehatan usia lanjut
9. Upaya tradisional
Setiap kegiatan pelayanan di atas mempunyai satu orang yang bertanggung jawab sehingga tidak ada kegiatan yang terbengkalai atau tidak terurus.
Di puskesmas yang kami kunjungi ini, belum ada pelayanan rawat inap. Pelayanan rawat inap masih baru disediakan di puskesmas-puskesmas besar atau puskesmas pusat, seperti: Puskesmas Sukma Jaya dan Puskesmas Cimanggis. Oleh karena itu, pelayanan di puskesmas Depok Jaya masih sebatas rawat jalan bagi pasien.

F.   Ruangan di Puskesmas Depok Jaya
Di Puskesmas Depok Jaya, terdapat kurang lebih 12 ruangan yang tiap ruangan memiliki fungsi berbeda. Berikut ini adalah daftar ruangan yang terdapat di dalam puskesmas ini (nomor ruangan tidak urut):
1.     Ruang Imunisasi
Ruangan ini digunakan sebagai tempat mengimunisasi para balita.
2.     Ruang Poli Gigi
Ruangan ini berada di pojok ruangan. Di sini ada 2 dokter gigi yang memberikan pelayanan terhadap pasien yang mempunyai permasalahan dengan gigi dan mulut. Ruangan ini sebagai sarana untuk merealisasikan salah satu kegiatan pengembangan puskesmas yaitu upaya kesehatan gigi dan mulut.
3.      Ruang KIA (Poli Reproduksi, Poli KIA)
Seperti di Poli Gigi, Poli ini ditangani oleh 2 dokter atau tenaga medis wanita. Ruangan ini merupakan pusat kegiatan Posyandu apabila pasien tidak sempat datang ke Posyandu desa; konsultasi dan pemeriksaan ibu hamil; konsultasi dan pemeriksaan anak serta kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan ibu dan anak. Di daerah tersebut sudah sangat sedikit warga yang mempergunakan jasa dukun bayi, bahkan bisa dikatakan hamper tidak ada. Oleh karena itu pelayanan untuk KIA di desa/wilayah sekitar Puskesmas Depok Jaya benar-benar terpusat pada puskesmas tersebut dan kegiatan-kegiatan kesehatan lain di luar puskesmas yang dilakukan di bawah kontrol puskesmas, seperti Posyandu dan Poswindu.
4.      Laboratorium
Laboratorium seperti yang sudah kita ketahui digunakan sebagai tempat untuk meneliti berbagai hal yang digunakan dalam proses pemeriksaan untuk menentukan diagnosa dini. Hal-hal tersebut seperti cek darah, dll. Namun, dikarenakan sedikit keterbatasan fasilitas di puskesamas fungsi laboratorium belum semaksimal fungsi laboratorium di rumah sakit.
5.      Ruang Klinik TB/Paru
Dilihat dari namanya, sudah jelas sekali ruangan ini digunakan untuk menangani pasien spesialisasi penyakit TB/Paru. Namun, ruangan ini sebatas sebagai ruang pemeriksaan terhadap pasien.
6.      Ruang Vaksin
Ruang  vaksin merupakan gudang dari segala vaksin-vaksin yang digunakan untuk imunisasi atau vaksinasi. Di dalamnya terdapat alat-alat vaksinasi, seperti jarum suntik, obat-obat cair, vaksin dan merupakan ruangan yang sangat tertutup serta hanya boleh dimasuki oleh petugas.
7.      Ruang Poli Umum
Poli Umum digunakan sebagai ruang pemeriksaan tahap awal. Pasien penyakit umum akan diperiksa di ruangan ini. Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya penyakit baru atau perlu dilakukan tindakan, maka pasien akan dirujuk ke ruangan yang sesuai, misalnya ke ruang Klinik TB/Paru atau ke ruang tindakan.
8.      Ruang Tata Usaha
Ruangan ini digunakan sebagai tempat untuk mengatur segala urusan keadministrasian puskesmas. Di sana terdapat data-data mengenai jumlah pasien dan perkembangannya dari waktu ke waktu, keuangan puskesmas, dan rekaman segala kegiatan sehari-hari yang ada di puskesmas
9.      Ruang Tindakan
Ruang tindakan adalah ruang yang dituju untuk melakukan pertolongan pertama untuk pasien. Di dalam ruangan ini, pasien akan diberikan tindakan entah itu berupa pemeriksaan lebih lanjut setelah dirujuk dari poli umum, penanganan lebih lanjut terhadap luka fisik yang segera membutuhkan tindakan, atau tindakan-tindakan penyelamatan pertama bagi pasien kecelakaan, dll.
10.   Ruang Obat
Ruangan ini merupakan tempat penyimpanan obat. Obat-obat yang sudah didapatkan dari Dinkes untuk selanjutnya akan disimpan di dalam ruangan ini. Jumlah obat-obat tersebut disesuaikan dengan penyakit yang lebih sering muncul di dalam warga.
11.   Ruang Poli Anak
Hampir sama seperti poli KIA, hanya saja di sini terfokus untuk melayani penyakit-penyakit anak.
12.   Ruang Klinik Gizi dan Kesling

G. Mekanisme Pelayanan Puskesmas Depok Jaya

Mekanisme pelayanan di Puskesmas Depok Jaya cenderung sama dengan puskesmas-puskesmas lain. Secara garis besar, alur pelayanan di Puskesmas Depok Jaya adalah sebagai berikut:
  

Pelayanan diawali dengan pendaftaran di loket pendaftaran. Untuk poli umum biaya pendaftaran sebesar Rp. 2.000,00. Namun, untuk poli khusus, seperti poli gigi dan TB, dikenakan biaya tambahan sebagai pengganti biaya tindakan. Khusus untuk pemakai kartu askes atau jamkesmas, pasien tidak perlu membayar pada saat melakukan pendaftaran.
Setelah itu, pasien akan mengantre untuk dipanggil ke ruangan pemeriksaan untuk diperiksa dan mengetahui diagnosa dini terhadap pasien. Apabila diperlukan tindakan segera maka pasien akan dirujuk ke ruangan tindakan untuk segera menangani permasalahan kesehatan tersebut. Selanjutnya, pasien akan diberi resep untuk ditebus di ruang obat. Setelah itu pasien dapat pulang.

H.    Kondisi Operasional di Puskesmas Depok Jaya
Di atas sudah disebutkan bahwa Puskesmas Depok Jaya merupakan puskesmas “anakan” dari Puskesmas Pancoran Mas, sedangkan Puskesmas Pancoran Mas sendiri bertanggung jawab kepada Dinas Kesehatan. Dinas Kesehatan di sini disebut Unit Pelaksana Teknik Dinas (UPTD) sedangkan puskesmas disebut sebagai Unit Pelaksana Fungsional. Jadi, Dinkes yang bertanggung jawab terhadap teknis, sedangkan puskesmas berperan sebagai lembaga fungsional yang member pelayanan langsung kepada masyarakat.
Seperti halya tempat pelayanan kesehatan milik negara yang lain, puskesmas menerima adanya pasien jamkesmas, jamkesda dan askes tanpa memberlakukan pelayanan berbeda. Jamkesmas telah didistribusikan kepada warga setempat sejak dikeluarkan. Namun, terdapat kendala pada pendistribusian sehingga ada warga yang tidak mendapatkan Jamkesmas tersebut. Solusi untuk kondisi ini adalah adanya pengalihan kepada Jamkesda perallihan dengan syarat persetujuan dari RT dan RW serta telah diverivikasi oleh puskesmas dengan observasi lapangan.
Dalam hal operasional, kendala sering muncul lebih diakibatkan oleh adanya keterlambatan turunnya kucuran dana dari pemerintah mengenai penggantian dana Jamkesma. Bahkan, hingga bulan September kemarin, pemerintah belum menurunkan dana penggantian untuk bulan Juli. Namun, Dr. Yani mengklaim bahwa hal ini sudah menjadi suatu hal yang biasa terjadi. Untuk menangani keterlambatan itu, puskesmas mengakalainya dengan cara menalangi dana pengobatan dengan dana pribadi puskesmas. Untuk pendistribusian obat, puskesmas tersebut tidak mengalami kendala berarti. Pesanan obat ke Dinkes datang dan diberikan sesuai pesanan puskesmas sehingga sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

I.     Kesadaran Warga Sekitar terhadap Pentingnya Puskesmas
Dari sekitar 200 orang pasien yang datang ke puskesmas di setiap harinya, sebagian besar di antaranya merupakan pasien poli umum, disusul oleh pasien KIA. Hal ini mencerminkan bahwa warga sudah sadar akan pentingnya KIA. Dr. Yani juga mengatakan bahwa sudah tidak ada lagi warga sekitar yang menggunakan jasa dukun dalam persalinan, meskipun di sekitar wilayah itu masih ada dukun bayi. Pelayanan KIA yang diberikan di puskesmas sama seperti yang diberikan dalam posyandu pada umumnya, meliputi imunisasi, penimbangan serta pemeriksaan anak dan balita.
Upaya pengembangan untuk masyarakat yang telah dilakukan oleh puskesmas adalah upaya SIAGA. Masyarakat setempat pada umumnya sudah menyadari pentingnya kesehatan dan sangat aktif untuk meningkatkan kualitas kesehatan di sana. Hal ini dibuktikan dengan perolehan penghargaan dan/atau juara yang tak jarang mereka capai sebagai Desa Siaga di Depok. Penghargaan yang diperoleh warga merupakan contoh keberhasilan pola pengorganisasian dan pengembangan masyarakat yang dapat diterima dan diterapkan dalam masyarakat.
Meski, Harapan dari Dr. Yani sendiri sebagai orang yang berkecimpung di dunia kesehatan, masyarakat lebih mengenali fungsi dari puskesmas dan kesehatan masyarakat sehingga pelayanan kesehatan yang disediakan oleh Puskesmas Depok Jaya dapat tercipta secara optimal dan maksimal. Terlebih fasilitas dan tenaga medis yang tersedia di puskesmas tersebut dapat dipastikan sudah cukup memadai.
Share:

Implementasi Teknologi Komputer Dalam Bidang Kesehatan di Daerah Terpencil


Implementasi Teknologi Komputer Dalam Bidang Kesehatan
di Daerah Terpencil





Tugas Mata Kuliah Teknologi Komputer





Oleh :
Anifatun Mu’asyaroh
Fauziah Nurmala Sari
Helmi Wahyuningsih
Iksanatun Fadila Oktabriani





FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
Mei 2012


Latar Belakang
            Kesehatan di daerah terpencil memang menjadi salah satu kebutuhan dasar masyarakat (basic need). Namun, jika dilihat dari kondisi saat ini, pelayanan kesehatan di daerah terpencil belum memadai, baik dari segi sumber daya manusia maupun infrastruktur di institusi pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pembangunan kesehatan secara intensif oleh pemerintah untuk mengatasi minimalnya sumber daya dan fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.
Tujuan pembangunan kesehatan di daerah terpencil diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Namun, jika diamati lebih pembangunan kesehatan antara daerah maju dan daerah terpencil mengalami kesenjangan cukup signifikan. Hal itu tentu akan berdampak pada pembangunan manusia Indonesia. Simak saja peringkat Human Development Index (HDI) bangsa Indonesia menurut UNDP pada tahun 2006, di mana Indonesia menduduki peringkat ke-108 dari 177 negara-negara di dunia. Mengingat keterbatasan infrastruktur yang ada di daerah terpencil, pemerintah perlu mengupayakan peningkatan fasilitas, salah satunya dengan meningkatkan pengadaan teknologi. Teknologi digunakan untuk mempermudah pekerjaan. Sebagai contoh, penggunaan sistem informasi untuk penggunaan database dan juga bisa digunakan untuk memantau kesehatan pasien (memonitor detak jantung, memonitor aliran darah, memeriksa organ dalam pasien dengan sinar x, dll).
Salah satu teknologi yang sangat penting untuk diupayakan adalah teknologi  komputer. Teknologi komputer ini dapat berguna untuk memudahkan petugas kesehatan dalam menunjang kinerjanya serta dalam melayani masyarakat setempat. Semakin pesatnya perkembangan teknologi computer mengakibatkan keberadaan sistem informasi elektronik berbasis komputer sangat strategis dalam meningkatkan pembangunan, salah satunya adalah pembangunan kesehatan. Informasi-informasi tersebut dapat digunakan bagi kepentingan pelaporan dalam surveilans untuk mengetahui masalah kesehatan yang sedang terjadi sehingga dapat dilakukan tindakan langsung dalam penyelesaian masalah tersebut. Selain itu, informasi yang ada disebarluaskan kepada masyarakat sehingga masyarakat mengetahui kondisi kesehatan di wilayahnya.

Pentingnya Teknologi Komputer dalam Menunjang Aktivitas di Bidang Kesehatan Khususnya di Daerah Terpencil
            Pada daerah yang belum menggunakan pemanfaatan teknologi komputer, sistem pelayanan kesehatan masih dilakukan secara manual menggunakan tangan. Hal ini tentunya dapat menghambat efektivitas dam efisiensi kinerja petugas dalam bekerja dan melayani masyarakat. Padahal pemanfaatan teknologi komputer dapat memudahkan petugas, misalnya dalam hal:
1.      Rekam medis berbasis komputer,
secara prinsip, rekam medis berbasis komputer mencakup penggunaan database untuk mencatat semua data medis pasien atau data klinis pasien yang berasal dari hasil pemeriksaan dokter maupun hasil pemeriksaan laboratorium. Jika diterapkan, sistem ini dapat membantu petugas dalam melihat riwayat penyakit dan perkembangan kondisi pasien secara mudah. Dengan kelengkapan fasilitas elektronik, dokter secara rutin menggunakan komputer untuk menemukan pasien, mencari data klinis, serta memberikan instruksi klinis.
2.      Teknologi nirkabel,
pemanfaatan jaringan komputer dalam dunia medis sebenarnya telah dirintis sejak hampir 40 tahun yang lalu. Melalui jaringan nirkabel, dokter dapat selalu terkoneksi ke dalam database pasien tanpa harus terganggu mobilitasnya.
3.      Komputerisasi pada proses administrasi, seperti sistem penjadwalan petugas medis (dokter, perawat),           
4.      Komputerisasi pada proses regristasi pasien,
5.      Penanganan dan pengolahan data sosial pasien,
6.      Penanganan dan pengolahan data kunjungan pa,sien
7.      Penanganan pembayaran atas tindakan dan pelayanan
8.      Keuangan dan accounting.
Penggunaan teknologi komputer di daerah terpencil masih sangat minimal. Salah satu contoh adalah di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki peringkat ke-31 dari 33 provinsi dalam Indeks Pembangunan Manusia. Kesehatan merupakan salah satu indikator dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia. Dalam pembangunan kesehatan itu sendiri, dibutuhkan penggunaan sistem informasi yang tepat. Akan tetapi, kendala yang dihadapi oleh Provinsi NTT adalah terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana sistem informasi dan minimnya penggunaan fasilitas komputer. Terbatasnya ketersediaan sistem informasi dapat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan kegiatan sehingga pelaksanaan yang dilakukan oleh Provinsi NTT kurang maksimal.
Selain di Provinsi NTT, Provinsi NTB yang berada pada peringkat ke-32 dari 33 provinsi juga memiliki masalah terkait penggunaan teknologi komputer, yaitu adanya fragmentasi dalam sistem informasi kesehatan. Maksud dari fragmentasi tersebut adalah banyaknya penggunaan sistem informasi kesehatan yang berbeda-beda di semua tingkat administrasi (kabupaten, kota, provinsi). Hal ini mengakibatkan terjadinya duplikasi data, kurangnya kelengkapan data, dan data yang tidak valid. Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa puskesmas harus mengirim lebih dari 300 laporan dan terdapat 8 macam sistem yang digunakan sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Beban-beban yang terlalu tinggi mengakibatkan ketidakefektifan dan ketidakefisiensian sistem informasi kesehatan yang digunakan.
Selain itu, masalah yang dihadapi dalam sistem informasi kesehatan ialah format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum memiliki standar secara nasional. Hal ini diwujudkan dari masih adanya daerah yang mencatat dan menyerahkan laporan kesehatan yang diisi dengan tulisan tangan. Lebih buruknya, mereka terkadang menyusun sendiri poin-poin pelaporan sehingga tidak sesuai dengan standar yang sudah dibuat oleh pemerintah. Sudah dapat dipastikan, metode pencatatan dan data basing seperti ini sangat tidak efektif dan memberi informasi yang baik.
Masalah tersebut mendorong pemerintah untuk membuat perencanaan sistem informasi kesehatan daerah yang baru pada tahun 2008, yakni Sistem Informasi Kesehatan Daerah (SIKDA) “Satu Pintu”. Sistem ini merupakan sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan yang berpusat pada sebuah bank data sebagai pintu masuk dan keluarnya data, yang berisikan data individu dan atau agregat yang berasal dari setiap fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta serta sektor terkait.
Untuk menerapkan SIKDA “Satu Pintu”, dibutuhkan sarana pendukung, antara lain bangunan, hardware, software, SDM untuk pengumpulan, pengolahan, analisa, dan visualisasi data. Terlebih, 96% puskesmas harus memiliki minimal satu unit computer untuk dapat melaksanakan program ini.
Selain hal di atas, dalam penggunaan teknologi komputer dibutuhkan tenaga ahli profesional untuk menjalankan sistem pelayanan kesehatan berbasis komputer. Dengan adanya tenaga ahli, maka penggunaan teknologi komputer dalam sistem pelayanan kesehatan menjadi optimal dan saat terjadi masalah dalam penggunaan komputer, mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut.

Keuntungan Penggunaan Teknologi Komputer dalam Bidang Kesehatan
            Dari salah satu pemaparan di atas, dapat dikerucutkan sebuah intisari bahwa pengolahan data dengan metode manual sangat kurang efektif dan efisien, terutama dalam hal penyimpanan data. Sedangkan apabila data diolah dan disimpan dalam komputer, kemungkinan data tersimpan dan terolah dengan baik akan lebih besar. Selain itu, komputer melalui software-software yang terdapat di dalamnya dapat menghasilkan informasi yang berkualitas dan akurat kaena dilakukan uji analisis sehingga membantu dalam hal pengambilan keputusan. Adapun keuntungan yang didapat dari penggunaan teknologi komputer adalah sebagai berikut.
  1. Dapat mengurangi pekerjaan yang berulang-ulang atau dapat mengedit dengan mudah, tampilan yang mudah dipahami oleh pemakai, meningkatkan kinerja dalam rangka melakukan perjalanan menyelesaikan tugas dengan baik.
  2. Dapat menyajikan informasi secara akurat karena informasi yang dihasilan lebih berkualitas daripada jika diolah secara manual.
  3. Informasi dapat diperoleh tepat waktu karena data yang sudah di-input umumnya dapat diolah dalam waktu yang relative singkat dan cepat
  4. Relevan, kaena informasi yang setiap saat dibutuhkan dapat diperoleh sehingga informasi yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan.
           
Kendala yang Dihadapi dalam Penerapan Teknologi Komputer dalam Bidang Kesehatan di Berbagai Daerah di Indonesia
Berdasakan paparan di atas, penggunaan komputer di bidang kesehatan di negara-negara berkembang, seperti di berbagai daerah di Indonesia masih belum merata. Tidak hanya dari segi fasilitas komputer dan jaringannya, tetapi dari segi sumber daya manusia. Di Indonesia masih sedikit tenaga kesehatan yang sekaligus dapat mengoperasikan komputer. Hal ini salah satu penyebab masih minimalnya penggunaan komputer sebagai pendukung kesejahteraan kesehatan masyarakat. Padahal, maksud pemerintah mengadakan sistem informasi kesehatan berbasis komputer adalah untuk mempermudah pekerjaan dalam keterbatasan sumber daya manusia.
Penggunaan komputer tentunya tidak lepas dari listrik. Seperti yang kita tahu, komputer membutuhkan listrik untuk dapat beroperasi. Meskipun pemerintah sudah merencanakan sebuah sistem informasi kesehatan di daerah-daerah, tetap saja hal itu kurang dapat memberikan hasil yang baik, karena masih banyak daerah yang mendapat pemadaman listrik bergilir atau bahkan sama sekali belum teraliri listrik. Oleh karena itu dibutuhkan peran serta yang tinggi, konsisten dan intensif dari pemerintah dalam hal penyediaan aliran listrik yang baik dan merata hingga daerah terkecil di nusantara.
Masalah utama dari masih minimalnya penggunaan komputer di daerah adalah masih sedikitnya penyediaan komputer bahkan di tingkat rumah sakit. Hal inilah yang membuat daerah masih kesulitan dalam hal pengolahan data kesehatan.





KESIMPULAN
Tiga peringkat indeks pembangunan manusia berada di Provinsi Papua, NTB, dan NTT. Indikator dalam pengukuran indeks pembangunan manusia adalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Dalam meningkatkan pembangunan kesehatan, dibutuhkan infrastruktur yang mencakup sarana dan prasarana, salah satunya adalah teknologi komputer. Namun, penggunaan teknologi komputer di tiga provinsi di atas masih minimal. Proses pelaksanaan pelayanan kesehatannya pun masih kurang maksimal. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat di wilayah tersebut terutama daam hal pengumpulan dan penyimpanan data-data pasien yang seharusnya akan lebih mudah dan terorganisasi dengan baik apabila menggunakan sistem komputerisasi yang sudah terjamin baik kinerjanya.

SARAN
Saran yang dapat disampaikan kepada daerah-daerah yang masih belum menggunakan  teknologi komputer sebagai alat utama penyampaian dan penampungan segala data dan informasi antara lain sebagai berikut.
1.    Untuk menghindari kesalahan dan ketidakefektifan dalam pengumpulan dan penggunaan data yang biasanya terjadi apabila menggunakan metode manual, sebaiknya pengolahan data dan informasi kesehatan beralih menggunakan sistem berbasis komputer. Hal ini cukup mungkin dilakukan karena syarat utama penggunaan kompter adalah adanya listrik, operator dan komputer itu sendiri.
2.    Pemanfaatan media komputer sebagai penghubung arus informasi dan pendukung pelayanan kesehatan seharusnya diterapkan sebagai pengganti cara kerja manual.
3.    Meningkatanya peran pemerintah dalam hal pengadaan tenaga ahli komputer, penyediaan alur listrik hingga ke pelosok terkecil dan komputer khusus kesehatan minimal berjumlah satu unit yang ditempatkan di puskesmas desa.
4.    Adanya pelatihan terhadap para tenaga kesehatan mengenai cara mengoperasikan komputer dan menjalankan berbagai software yang berkaitan dengan pengolahan data, kesehatan dan perhitungan sederhana. Dengan demikian, keberadaan komputer tidak malfungsi di daerah tersebut. Hal ini didasarkan pada adanya daerah yang sebenarnya masyarakat dan daerahnya berpotensi memanfaatkan sistem berbasis komputer, tetapi dari mereka sendiri masih kurang adanya kesadaran dan keinginan. Dengan adanya pelatihan terhadap tenaga kesehatan yang notabene dapat dikatakan sebagai salah satu contoh masyarakat, maka diharapkan perkembangan pemanfaatan komputer dapat meningkat.





Daftar Pustaka
http://www.anneahira.com/teknologi.htm (Rabu, 2 Mei 2012. 19.00 WIB)
Rahmi So­arini. "Cukilan Desentralisasi: Inovasi dalam Pembangunan Kesehatan di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Tantangan Keberlanjutan Penerapannya". http://www.batukar.info/system/files/BinderRahmi.pdf  (diakses pada tanggal 3 Mei 2012, 17:20 WIB)
dr.Awi Muiadi Wijaya, MKM." Perkembangan Terkini dan Masa Depan SIK di Indonesia". http://www.infodokterku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=183:perkembangan-terkini-dan-masa-depan-sistem-informasi-kesehatan-sik-di-indonesia&catid=27:helath-programs&Itemid=28  (diakses pada tanggal 3 Mei 2012, 17:15 WIB).

Share:

Postingan Populer